Bercak-bercak misterius yang terlihat di cincin Saturnus mungkin berkaitan erat dengan badai besar yang terjadi di atmosfernya. Fenomena unik ini pertama kali diamati oleh wahana Voyager I dan II saat melintas dekat planet raksasa tersebut pada tahun 1980 dan 1981.
Terlihat seperti goresan garis yang memotong cincin-cincin Saturnus, bercak tersebut memiliki lebar mencapai 100 kilometer dan panjang hingga 20 ribu kilometer. Bercak tersebut seperti bekas telapak tangan di permukaan rangkaian cincin-cincin Saturnus.
Bercak tersebut hanya muncul sesekali dan berlangsung beberapa jam saja di tempat yang berbeda-beda. Tapi saat wahana Cassini melintas antara tahun 1998 hingga 2004 tidak terlihat tanda-tanda tersebut. Bercak baru kelihatan kembali pada bulan September 2005 saat Cassini merekam cincin Saturnus.
Para ilmuwan yakin kalau bercak tersebut merupakan partikel-partikel debu yang muatan listriknya berubah sehingga terdorong ke lintasan cincin di luarnya. Tapi sampai beberapa tahun terjadi belum diketahui penyebabnya.
Seperti Bumi
Mungkin bercak tersebut terjadi karena meteorit-meteorit yang melintasi cincin. Plasma bermuatan yang menyertainya akan mengubah muatan partikel-partikel debu cincin. Tapi, teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa bercak terjadi secara bertahap. Lagipula sulit diterima ada banyak meteorit yang sama-sama melintas tepat di bagian cincin di waktu yang sama.
Geraint Jones dari Penelitian Sistem Tata Surya Institut Max Planck di Katlenburg-Lindau, Jerman punya pendapat berbeda. Meski masih spekulatif, ia dan para koleganya memprediksi bahwa bercak dipicu kilat yang dibentuk badai Saturnus.
Teori ini didasarkan pada proses pembentukan badai di Bumi yang menghasilkan loncatan elektron di atmosfer bagian atas. Loncatan elektron umumnya terjadi di antara awan atau ke permukaan Bumi menghasilkan kilat. Tapi, jika energinya sangat besar bisa memicu loncatan elektron di atas awan. Aliran elektron bisa mencapai luar angkasa melalui garis-garis medan magnet Bumi dan menimbulkan pancaran sinar gamma yang disebut sprite.
Badai juga terjadi di atmosfer Saturnus yang sangat tebal. Menurut Jones, fenomena yang sama bisa juga terjadi di sana sehingga aliran elektron mencapai cincin-cincinnya dan mengubah muatan partikel-partikel debunya.
Jika teori ini benar, fenomena ini berarti didorong energi yang sangat besar. Sebab, kekuatan kilat yang menyebabkannya bisa mencapai 10 ribu kali lipat kilat yang terjadi di Bumi.
