Pijat diyakini bisa mengoptimalkan tumbuh kembang bayi.
Banyak orang telah merasakan manfaat dan nikmatnya dipijat. Badan yang lelah dan lunglai, akan terasa ringan dan rileks setelah dipijat. Tak heran, banyak orang yang tertidur saat dipijat. Kaki terkilir atau keseleo pun akan cepat membaik berkat pijatan.
Bahkan, di kampung-kampung, tak sedikit para ibu yang biasa membawa bayi mereka yang sedang rewel atau tak enak badan ke ‘tukang urut’ untuk dipijat. ”Biasanya, setelah dipijat, anak saya tak rewel lagi dan bisa tidur pulas,” kata Fitri, ibu satu anak, yang sangat percaya pada manfaat pijat bayi.
Saat ini memang belum banyak penelitian ilmiah mengenai pijat bayi. Namun, di beberapa rumah sakit di Amerika Serikat (AS), Cina, Filipina, dan Hong Kong, pijat bayi sudah dimasukkan ke dalam sistem pelayanan kesehatan bayi. Pijat bayi diyakini merupakan salah satu stimulasi sentuhan (touch) yang bisa membantu mengoptimalkan tumbuh kembang bayi.
Stimulasi pijat bayi mulai diperkenalkan oleh Dr Tiffany Field dari Touch Research Institute, Miami, Florida, AS, saat menyampaikan presentasinya dalam Kongres Internasional Dokter Spesialis Anak di Hong Kong pada 1995. Penelitian serupa kemudian dilakukan di sejumlah negara lain seperti Kanada, Cina, Israel, Swedia, Filipina, Singapura, dan Hong Kong.
Perintis penelitian pijat bayi itu pernah diundang ke Jakarta atas prakarsa Johnson & Johnson pada 1997. Saat itu, Tiffany memberikan ceramah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan beberapa kota besar di Indonesia. Sejak itu, minat terhadap pijat bayi di Indonesia mulai berkembang. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/RSCM bahkan telah melakukan pelatihan stimulasi sentuhan bagi tenaga kesehatan.
Menurut Kepala Divisi Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, dr Soedjatmiko SpA(K) MSi, minat petugas kesehatan terhadap stimulasi sentuhan sangat besar. Sampai saat ini, telah dilakukan pelatihan internal sebanyak delapan kali untuk perawat, bidan, mahasiswa kedokteran dan akademi keperawatan, dokter umum, calon dokter spesialis anak, dan dokter spesialis anak. ”Bahkan, atas permintaan Ikatan Bidan Indonesia, kami telah melatih 50 bidan yang kemudian dalam waktu lima jam melatih lebih dari 600 ibu untuk memijat bayi masing-masing sehingga masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia,” tuturnya.
Aplikasi stimulasi sentuhan
Menurut Soedjatmiko, pijat bayi dapat digolongkan sebagai aplikasi stimulasi sentuhan. Ini karena dalam pijat bayi terdapat unsur sentuhan berupa kasih sayang, perhatian, suara atau bicara, pandangan mata, gerakan, dan pijatan. Stimulasi ini akan merangsang perkembangan struktur maupun fungsi sel-sel otak.
Pijatan, kata Soedjatmiko, bermanfaat untuk membantu sistem kekebalan tubuh bayi, membantu melatih relaksasi, membuat tidur lebih lelap, serta membantu pengaturan sistem pencernaan dan pernapasan. Pemijatan juga mengoptimalkan tumbuh kembang bayi dengan risiko tinggi, yakni bayi-bayi yang dalam proses kehamilan dan kelahirannya mempunyai faktor-faktor risiko yang dapat mengganggu tumbuh kembangnya. Misalnya, berat lahir kurang dari 2.000 gram, tidak langsung menangis, biru, kadar bilirubin tinggi, sering kejang, dan mengidap penyakit atau gangguan kesehatan lainnya.
Stimulasi sentuhan juga dapat mempererat ikatan emosi antara orang tua dengan bayinya, membantu orang tua memahami bahasa non verbal bayi, dan menimbulkan rasa percaya diri dalam mengasuh anak. Pemijatan juga dapat meningkatkan komunikasi orang tua dengan bayi, meredakan stres orang tua, dan menciptakan suasana menyenangkan. Lebih dari itu, pijat bayi juga dapat meningkatkan air susu ibu dan mengurangi kambuhnya penyakit kronis seperti asma.
Soedjatmiko menuturkan, pijat bayi lebih baik dilakukan oleh orang tua, terutama dalam usia tiga tahun pertama. Sedangkan yang paling bermanfaat adalah pijatan yang dilakukan pada enam atau tujuh bulan pertama usia bayi. ”Pemijatan bisa dilakukan dua kali sehari, yang penting dalam suasana nyaman. Ini bagian dari parenting, bukan pengobatan.”
Sumber : Republika – Minggu, 03 Desember 2006
updated :
Meskipun bermanfaat, pijat bayi tetap harus dilakukan dengna hati-hati. Jangan melakukan pijatan keras pada bagian perut bayi karena dapat berakibat fatal. Kisah cucu dari tetanggaku yang dipijat perutnya yang menyebabkan ususnya jadi lengket dengan usus lain (infonya belum jelas — nanti saya update). Dan akhirnya harus dioperasi di RS Sardjito. Operasi pun tidak mampu mengatasinya, pada akhirnya sang bayi pun meninggal.
good…good..good
Yumna….
Jauh sebelum peneliti dari AS Dr Tiffany Field masyarakat kita sudah sgt familier dgn pijat bayi…….
so so.. basi bo mr. tiffany….
Betul itu, tulisan di atas cuman sbagai penegas aja kok. Karena ada juga masyarakat kita yang tidak mau memijatkan anaknya. he…he…he…
Dan jangan sampai salah memijat anak. Karena bisa jadi Anak anda jadi korban.
syukron jazakillah